Biologi Lobster Mutiara

Hasil gambar untuk manfaat lobster mutiara

Lobster laut sangat beragam jenisnya dan mempunyai spesifikasi perkembangan dan tabiat hidup berbeda. Salah satu jenis lobster yang potensial adalah lobster mutiara (Panulirus ornatus), hidup di perairan Indo-Pasifik, daerah lintang rendah (Phillips et al., 1980). Jenis lobster tersebut pertumbuhannya paling tinggi jika dibandingkan dengan lobster tropis lainnya seperi P. versicolor, P. homarus dan P. polyphagus (Vijayakumaran dan Radhakrishnan, 1997), di alam dapat ditemukan bobot badan 4,2 kg/ekor (Yusnaini et al., 2006), bahkan dapat mencapai ukuran 6,5 kg/ekor, puerulus (3-5 g) dapat mencapai 300 g dalam waktu setahun (Tam, 1980).
Siklus hidup lobster terdiri dari 5 fase yaitu mulai dari dewasa yang memproduksi sperma atau telur, menetas menjadi filosoma (larva), kemudian berubah menjadi puerulus (post larva), tumbuh menjadi juvenil dan dewasa (Phillips et el. 1980).

Marga Panulirus mempunyai daur hidup yang majemuk, pengetahuan tentang tingkatan hidup larva masih sangat kurang terutama terhadap jenis-jenis yang hidup di perairan tropik (Romimohtarto dan Juwana, 2005).
Pada pembenihan, salah satu parameter yang perlu diketahui adalah ciri-ciri penentuan jenis kelamin dan tingkat kedewasaan. Sifat seksual primer ditandai oleh organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi, yaitu ovarium pada betina dan testis pada jantan. Penentuan jenis kelamin berdasarkan organ primer bisanya diperlukan pembedahan, namun belum tentu positif terutama pada organisme yang belum berkembang organ reproduksinya serta bermasalah apabila organisme akan dipijahkan. Jenis kelamin dapat ditentukan berdasarkan organ reproduksi sekunder, seperti warna, atau ciri-ciri lainnya, demikian juga pada penentuan tingkat kedewasaan

Tubuh lobster mutiara terdiri dari dua bagian utama, yaitu kepala yang menyatu dengan dada (cephalothorax), dibungkus oleh karapas yang keras berduri, melekat 5 pasang kaki jalan (periopod) dan bagian badan terdiri dari daging, punggung dibungkus oleh karapas, tempat melekat kaki renang (pleopod) 4 pasang dan ekor (telson). Pada lobster puerulus belum terbentuk kaki renang.
Warna karapas lobster mutira dewasa dominan coklat mudah bergaris-garis hitam, tingkat warna coklat sangat dipengaruhi oleh habitat/media pemeliharaan. Lobster dipelihara pada media yang tidak disinari langsung matahari, warna karapas cenderung lebih putih dari pada lobster yang dipelihara pada media terbuka (karamba) di laut. Warna karapas tidak dapat dijadikan sebagai kriteria penentuan jenis kelamin dan tingkat kedewasaan.

Kebiasaan Makan
Lobster memiliki sifat nokturnal yaitu sifat binatang yang aktif mencari makan pada malam hari. Pada siang hari lobster lebih suka membenamkan diri dalam lumpur atau menempel pada suatu benda yang terbenam dalam air. Hewan nokturnal memiliki aktivitas yang tinggi pada permulaan menjelang malam dan berhenti beraktivitas dengan ketika matahari terbit (Cobb and Phillips, 1980). Pada prinsipnya udang karang (Panulirus sp) bersifat pemakan segala (omnivora), namun demikian hewan ini menggemari mengkonsumsi ikan, moluska, ekinodermata dan hewan lainnya terutama yang mengandung lemak, serta jenis algae (Subani, 1978).
Sifat lobster yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan atau budidaya lobster adalah kanibalisme. Individu lobster yang lebih kuat dapat memangsa individu yang lebih lemah atau lebih kecil ukurannya jika kondisi pakan berkurang. Lobster yang dalam kondisi moulting biasanya sangat lemah dan mudah menjadi sasaran pemangsaan oleh lobster lainnya.

· Reproduksi
Lobster berkembang biak dengan cara bertelur. Lobster betina sudah matang telur pada ukuran panjang total 16 cm. Sementara itu, udang jantan yang telah matang gonad berukuran lebih panjang, yaitu sekitar 20 cm. Lobster betina yang sedang bertelur melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan butir-butir telurnya di bagian bawah abdomen sampai telur tersebut dibuahi dan menetas menjadi larva udang. Menjelang akhir periode pengeluaran telur dan setelah dibuahi, lobster akan bergerak menjauhi pantai dan menuju ke perairan karang yang lebih dalam untuk penetasan. Nontji (1993) menyatakan bahwa, jumlah telur yang dihasilkan setiap ekor betina lobster dapat mencapai lebih dari 400.000 butir. Sedangkan menurut Subani (1984) dalam Utami (1999), seekor lobster betina dapat menghasilkan 275.000 butir telur pada setiap musim pemijahan.
Udang karang (lobster) mempunyai daur hidup yang kompleks. Telur yang telah dibuahi menetas menjadi larva dengan beberapa tingkatan (stadium). Secara umum dikenal adanya tiga tahapan stadia larva, yaitu “naupliosoma”, ”filosoma”, dan “puerulus”. Perubahan dari stadia satu ke stadia berikutnya selalu terjadi pergantian kulit yang diikuti perubahan-perubahan bentuk (metamorphose) yang terlihat dengan adanya modifikasi-modifikasi terutama pada alat geraknya. Lama hidup sebagai stadia larva untuk lobster berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Lobster yang hidup di perairan tropis, prosesnya lebih cepat dibanding dengan yang hidup di daerah sub-tropis. Waktu yang diperlukan untuk mencapai stadia dewasa untuk lobster torpis antara 3 sampai 7 bulan (Subani, 1984 dalam Utami, 1999).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *